Valorant Circuit Tour (VCT) 2021: SEA Challengers Stage 2 telah usai. Di turnamen itu kita harus menerima kenyataan pahit di mana tim kebanggaan Indonesia, BOOM Esports, tak bisa mendapatkan hasil yang diharapkan. Datang sebagai calon kuat juara, BOOM justru tampil jauh di bawah ekspektasi, lalu apa penyebab keterpurukan itu?
Nama BOOM Esports sudah tidak asing lagi di kancah Valorant Asia Tenggara. Mereka diakui sebagai salah satu poros kekuatan di region tersebut. Bahkan tim papan atas Korea Selatan, Vision Strikers, juga mengakui hal tersebut.
Pada perhelatan VCT SEA Challengers Stage 2, tim sekelas BOOM tentu diunggulkan untuk keluar sebagai juara. Namun kenyataan berkata lain, mereka hanya bisa finis di posisi 7-8 setelah diturunkan ke Lower Bracket oleh Bren Esports dan kalah 13-6 dari Full Sense.
Lalu apa yang membuat raksasa Asia Tenggara ini bisa tumbang dengan cepat?
- Sepenggal kisah f0rsakeN, adik Xccurate yang sukses di scene Valorant
- 6045 Pirates tampil di panggung Valorant terbesar Asia Tenggara dari warnet!
Ditemui di Gaming House, salah satu penggawa BOOM Esports, Asteriskk, mengungkapkan fakta di lapangan eksklusif kepada ONE Esports.
“Pada VCT SEA Challengers kemarin, saya merasa BOOM Esports benar-benar terkena counter strategi,” ungkap Asteriskk.
Strategi BOOM Esports memang berhasil diantisipasi dengan baik oleh lawan-lawannya. Mulai dari rotasi hingga pemilihan posisi, semuanya telah terbaca. Apalagi draft BOOM sendiri tidak mengalami banyak perubahan. Dari empat game yang dijalani selama babak playoff, tiga di antaranya menggunakan susunan agent yang sama, yaitu Phoenix, Brimstone, Sova, Cypher, dan Raze.
Mereka juga canggung menghadapi meta baru dan kemunculan agent-agent yang tak biasa. Seperti Viper, Astra, dan terutama Skye.
“Skye itu adalah agent lengkap. Dia bisa mencari informasi, memberikan heal, dan melakukan inisiasi dengan flash. BOOM Esports juga sangat jarang bertemu Skye saat scrim. kami memang kewalahan menghadapi Skye,” ungkap Asterisk.
Pemain bernama lengkap Nanda Rizana lanjut menjelaskan, “kala itu kita masih memakai meta lama, sementara di Chalengger kemarin meta baru sangat kuat. Jadi menurut saya kekalahan BOOM Esports dikarenakan tertinggal meta.”
Setelah menelan hasil yang tidak memuaskan, pastinya para pemain menelan rasa kecewa yang jauh lebih besar dari penggemarnya. Asteriskk mengatakan jika waktu bisa diulang, ia akan berlatih lebih keras dalam mempelajari meta baru.
“Jika waktu bisa diputar ulang, Saya akan mengikuti meta terbaru. Sebenarnya Saya sangat ingin memainkan Astra, agent baru itu memang pilihan wajib di meta saat ini,” kata Asteriskk.
Nasi sudah menjadi bubur, tak ada gunanya untuk tenggelam dalam keterpurukan di masa lalu. BOOM Esports kini menempati posisi empat klasemen VCT Asia Tenggara dan peluang mereka untuk lolos ke Champions masih terbuka lebar. Sudah seharusnya kita terus memberikan dukungan penuh kepada mereka agar bendera merah putih bisa berkibar di ajang Valorant internasinal.
BACA JUGA: Player Valorant Amerika Utara terbaik di setiap role versi 100 Thieves