CEO dari Take-Two Interactive, perusahaan pemilik Rockstar Games yang menciptakan game Grand Theft Auto, Strauss Zelnick, menyerang presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang sempat menyalahkan game sebagai alasan tragedi penembakan di AS belakangan.
Pada 3 Agustus lalu terjadi sebuah tragedi buruk dalam sejarah AS. 2 penembakan masal terjadi kurang dari 24 jam. Pertama di daerah El Paso, Texas, yang mana ada 22 korban meninggal.
13 jam kemudian hal yang sama harus terjadi lagi di Dayton, Ohio, di mana ada sembilan orang terbunuh. Insiden tersebut membuat debat soal bebasnya penggunaan senjata di AS kembali muncul.
Beberapa menyalahkan video game, karena dianggap membuat anak-anak muda terpengaruh akan kekerasan di dalamnya. Tak terkecuali Trump.
Saat itu ia mengatakan bahwa video game berkontribusi pada semakin maraknya kekerasan di lingkungan sekitar. Trump bahkan mengatakan bahwa game itu punya pengaruh yang sangat mengerikan.
Hal ini langsung memancing respons Zelnick. Pada sebuah interview dengan Business Insider, ia mengatakan komentar Trump benar-benar tidak respek dengan korban. Ia juga menyatakan bahwa masalah penggunaan senjata di AS adalah isu unik.
Zelnick berbicara tentu karena GTA adalah salah satu game yang identik dengan kekerasan bebas.
Pasalnya kalau dilihat dari data statistik, hanya AS negara yang memakan banyak korban dari senjata api, yang merupakan negara dengan revenue video game terbesar. Negara lain macam Korea Selatan, Tiongkok, Inggris, dan Kanada tak merasakan hal yang sama.
“Menyalahkan entertainment sangatlah tidak bertanggung jawab. Itu juga sangat tidak menghormati korban dan keluarga mereka. Faktanya enterainment dinikmai secara mendunia. Tapi kekerasan bersenjata adalah masalah unik di Amerika. Kita harus bisa melihat isu yang sesungguhnya,” tuturnya dikutip Dexerto.