Berbicara game fighting, Samurai Shodown menjadi salah satu yang cukup disorot belakangan ini. Game terbaru SS yang rilis Juni 2019 lalu, memiliki kualitas apik.

SS disetarakan dengan game fighting lain macam Street Fighter, Tekken, sampai Mortal Kombat. Bahkan SS juga menjadi salah satu game yang diperlombakan di EVO 2019 kemarin, yang mana sang legenda Street Fighter, Seon-woo “Infiltration” Lee, menjadi juara di cabang ini.

Meski begitu game ini tak lepas dari kritik. Beberapa player profesional menganggap karakter-karakter di Samurai Shodown tak berimbang. Ada yang begitu hebat, namun muncul juga yang kualitasnya jauh di bawah standar.

Direktur Samurai Shodown, Nobuyuki Kuroki, menjelaskan secara gamblang soal karakter ini kepada Kotaku. Ia mengaku tak adanya kesetaraan kekuatan pada karakter memang sengaja dibuat di SS.

“Saya pikir jika Anda membuat sesuatu hal yang terlalu datar di game seperti Samurai Shodown, rasa bosan yang akan muncul,” ujarnya.

“Ada banyak personalitas karakter, terlepas seberapa lemah dan kuat mereka, tetap akan ada keseimbangan. Tapi kami tak akan membuat sesuatu yang sangat datar,” tambah Kuroki.

Sang Direktur juga menganggap player Jepang dan negara Barat memainkan Samurai Shodown dengan gaya yang berbeda. Jepang lebih mengandalkan metode dan sangat dalam ketika menganalisis sesuatu. Sedangkan player barat lebih agresif. Hal itu dianggap Kuroki adalah sesuatu yang baik.

“Hal itu bekerja dengan baik di dalam game. Dua gaya yang berbeda akan membuat duel kian menarik,” katanya.

“Saya hanya ingin semakin banyak orang mencoba game, memainkannya, memperlihatkan pelbagai gaya berbeda, serta terus mengembangkan komunitas,” tutur dia.