Thailand dikenal sebagai negara penghasil atlet-atlet esports berkualitas di scene Arena of Valor, Dota 2, PUBG Mobile dunia. Namun, ternyata perkembangan olahraga elektronik di negara tersebut terbilang lambat.
Di scene Arena of Valor, Thailand merupakan salah satu negara yang disegani. Hal ini terlihat jelas di ajang Arena of Valor International Championship 2019 yang baru saja berakhir di Bangkok, Thailand, di mana salah satu wakil tuan rumah, Buriram United Esports, sukses melangkah hingga babak final.
Sementara di scene PUBG Mobile, Thailand memiliki tim-tim besar seperti RRQ Athena, MEGA Conqueror, dan ILLUMINATE the Murder yang juga sangat diperhitungkan di level dunia.
Sedangkan di scene Dota 2, Thailand juga memiliki beberapa pemain berkualitas yang membela tim besar. Sebut saja 23Savage dan Jabz yang berhasil lolos ke DreamLeague Season 13: The Leipzig Major bersama Fnatic.
- Penonton PMCO Fall Split Global Finals menurun jika dibandingkan Spring Split
- Timnas Mobile Legends Indonesia lolos playoff SEA Games 2019
Namun di mata salah satu pemain Dota 2 wanita Thailand dari tim Frosty Fire, Siriwan “Mei Mei” Tanwong, perkembangan esports di negaranya tidak berkembang pesat seperti negara-negara lain, bahkan di level Asia Tenggara.
Bahkan Mei Mei yang merupakan seorang player dan juga berprofesi sebagai guru itu hanya menyebut nama Arena of Valor yang berkembang di negaranya.
“Esports di Thailand tidak terlalu besar, tetapi secara perlahan-lahan mulai meningkat. Hanya beberapa game yang populer, seperti ROV (Arena of Valor), tetapi tidak dengan Dota 2,” ucap Mei Mei dalam sebuah wawancara dengan ONE Esports.
“Untuk esports, Thailand lebih lambat dari negara lain di Asia Tenggara, tetapi kami sedang berkembang saat ini,” tuturnya.
Untuk melihat wawancara ONE Esports selengkapnya bersama Mei Mei sebagai bagiand ari edisi “Esports Heroes” berikut videonya:
BACA JUGA: Cignal Ultra gagal lolos langsung The Leipzig Major akibat angin topan Kammuri?