Tak bisa dimungkiri jika esports telah menjadi industri yang menjanjikan. Di tengah pandemi yang menggerogoti segala aspek kehidupan, esports justru berkembang pesat. Tapi apakah tren positif ini bisa bertahan lama?
Dalam sebuah konfrensi daring yang digelar pada Selasa (09/03), Dewan Pembina PB Esports Indonesia sekaligus Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahudin Uno mengatakan, pandemi Covid-19 berdampak positif pada pertumbuhan esports di tanah air.

“Sektor gaming tumbuh luar biasa di tengah pandemi ini, sekitar 400% pertumbuhan gaming. Esports ini bisnis miliaran, lebih dari Rp15 triliun di 2020 dan diprediksi menembus Rp21 triiliun (pada 2021). Luar biasa esports ini,” kata Sandiaga dalam virtual meeting Media Group dengan Menparekraf, Selasa (9/3), dilansir dari Mediaindonesia.com.
Pernyataan Sandiaga Uno tersebut bukan tanpa alasan, banyak fakta yang menandakan jika esports bakal terus berkembang di waktu mendatang. Berdasarkan data yang dilaporkan NewZoo Report, pada tahun 2019 tercatat lebih dari 62 juta penduduk Indonesia adalah seorang gamer, dan mayoritasnya merupakan gengerasi milenial.
Faktor menjamurnya penggunaan smartphone dewasa ini juga menjadi variabel lain yang mendukung pertumbuhan esports mengingat 85 persen gamer Indonesia menggunakan platform tersebut.
Keputusan pemerintah untuk mengakui esports sebagai olahraga prestasi pada Agustus lalu merupakan langkah yang cukup tepat. Jika melihat eksistensinya secara global, esports sudah lebih dulu serius dikembangkan di negara-negara maju. Salah satunya China, negara yang diakui sebagai pasar game terbesar di dunia. Pendapatan tahunan industri game China pada tahun 2020 ditaksir mencapai Rp603 triliun.
- Apakah media fisik di industri game akan punah pada tahun 2021?
- EA ciptakan sistem yang bisa mengubah tren game mobile
Namun bukan berarti pertumbuhan esports tanah air tidak memiliki tantangan. Tak sedikit pula faktor-faktor yang bisa menghambat atau bahkan menghancurkan industri ini.
Mulai dari stigma negatif perihal game di tengah masyarakat, hingga persoalan kesehatan, baik fisik dan mental, yang menghantui para atlet esports menjadi PR paling besar yang harus diselesaikan. Di sini, pengelolaan matang dari pemerintah dan kesadaran para pelaku esports bakal berperan penting.
Awal tahun lalu. Di acara Sapa indonesia Malam, Bambang Sunar Wibowo, Ketua harian PB Esport Indonesia, mengatakan jika pemerintah akan membuat regulasi untuk mengembangkan esports ke arah yang positif.
Di sisi lain, pelaku esports, mulai dari manajemen hingga atlet, juga harus sadar pada dampak negatif bermain game seperti terganggunya kesehatan yang sudah dibuktikan oleh berbagai studi.
Jika semua elemen pendukung pertumbuhan esports bisa terpenuhi, bukan tidak mungkin esports bisa menjadi pendongkrak ekonomi negara dan penyumbang prestasi membanggakan. Tapi dengan syarat, kita selaku penggemar dan pegiat esports juga harus memberikan dukungan penuh. Hal paling sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan menghilangkan ujaran kebencian dan memberikan kritik yang membangun di media sosial. Mari kita lakukan yang terbaik untuk mendukung keberlangsungan industri yang kita cintai ini.
BACA JUGA: Esports jadi cabor prestasi, PBESI jadi asosiasi dengan kewenangan terbesar?