EVOS adalah salah satu tim esports terbesar di Indonesia, bahkan kini sudah memiliki tim di luar negeri. Terlepas dari nama besarnya, EVOS sadar tak mudah untuk mendominasi semua cabang esports.
Nama EVOS memang besar, tapi tim-tim mereka tak semudah itu menguasai sebuah kompetisi atau turnamen. Sampai saat ini, EVOS punya tim di cabang Mobile Legends: Bang Bang, Arena of Valor, PlayerUnknown’s Battleground Mobile, Dota 2, Point Blank, League of Legends, hingga Free Fire.
EVOS punya tim mega bintang di roster MLBB setahun ke belakang, tapi mereka gagal total di musim lalu. Roster baru musim ini yang justru menanjak dan memenangi IENC.
Tim Dota 2, PUBGM, dan AOV EVOS juga terbilang berkualitas, tapi di cabang lainnya EVOS belum bisa dibilang banyak berbicara.

Wakil presiden EVOS, Yohannes Siagian, mengungkapkan kepada ONE Esports soal hasrat EVOS untuk bisa mendominasi banyak cabang. Namun, hal itu tak bisa direalisasikan dengan mudah karena pada akhirnya esports berbeda dengan olahraga tradisional.

“Persaingan esports sedikit berbeda dengan olahraga tradisional lain, karena kalau kita fans satu tim bola pasti akan bola aja, tapi jika fans tim esports, bisa pelbagai cabang. Jadi dinamika persaingan esports berbeda,” katanya.
“Saya rasa akan sangat sulit bagi satu tim, apapun timnya, sebesar apapun, untuk mendominasi di semua cabang. Secara teoritis mungkin bisa, tapi secara praktis itu sangat susah. Butuh sumber daya dan keberuntungan yang sangat besar.”
“Dari owner dan fans juga mereka ingin kami berprestasi di semua cabang. Tapi kita tentu paham bahwa kompetisi esports tak semudah itu. Menang memang sesuatu yang kami kejar, tapi doing our best itu yang diminta dari anak-anak. Kalau memang kami sudah main maksimal dan ada tim yang berhasil mengalahkan, ya kami tepuk tangan, salam, dan cari cara mengalahkan mereka di musim berikutnya,” papar Joey.