Dying Light 2, salah satu game yang ditunggu-tunggu kehadirannya oleh para penggemar zombie apocalypse kembali diterpa isu kurang mengenakkan.
Game tersebut sebenarnya disambut antusias setelah dikenalkan dalam event E3 tahun lalu, namun peluncurannya terus mengalami penundaan.
- ePremier League Invitational kembali digelar dan hadirkan jajaran wajah baru
- Stay and Play menjadi komitmen EA bersama FIFA 20 puaskan hasrat sepak bola di tengah pandemi
Menurut salah satu anggota tim Techland (developer Dying Light 2) yang tidak mau disebutkan namanya, proses pengembangan Dying Light 2 benar-benar kacau, plot dan mekanisme game terus berubah sehingga kemajuannya terhambat.
“Dying Light 2 benar-benar kacau, awalnya kami fokus pada jalan cerita, kemudian fokus pada gameplay yang terus berubah-ubah. Moral tim saat ini sangat rendah, para pemimpin tidak tahu apa yang harus dilakukan,” ungkap anggota Techland kepada PolskiGamedev.pl.
Tampaknya hal yang menghambat perkembangan Dying Light 2 adalah konflik antara head writer Crish Avellone dan creative director Adrian Ciszewski. Intinya adalah, Avellone ingin membuat cerita gaya RPG yang rumit, namun itu tidak cocok dengan jenis permainan yang ingin dibuat Techland.
Permasalahan ini disinyalir merembet pada hal lain, seperti kepergian 50 dari 300 orang anggota Techland termasuk Pawel Rohleder, mantan kepala bagian teknologi, yang telah memajukan perushaan dengan Chrome engine buatannya.
Selain itu, beredar juga informasi bahwa Microsoft berencana untuk mengambil alih Techland. Namun kabar itu langsung disangkal melalui cuitan Twitter oleh juru bicara perusahaan tersebut.
BACA JUGA: Mohamed Daramy, penyerang muda FC Kobenhavn yang sukses juarai turnamen FIFA 20 Stay and Play Cup
