Setelah 2023 PMSL SEA Spring berakhir, Bigetron Red Villains mungkin adalah salah satu tim yang membutuhkan banyak evaluasi. Walau berhasil tampil semaksimal mungkin di babak Grand Final, Bigetron Red Villains masih memiliki PR besar.
Menghandle berbagai superstar di dalamnya memang tidaklah mudah. Kendati demikian, resiko besar telah diambil oleh Bigetron Red Villains dan mereka harus siap untuk semua kondisi dan situasi yang mereka akan hadapi.
Termasuk menghadapi setiap turnamen yang akan mereka ikuti. Saat ini, 2023 PMPL ID Fall memang masih menghitung hari. Akan tetapi, jika Bigetron Red Villains mau menjadi juara atau menjadi tim yang diperhitungkan mereka harus berbenah.
Setidaknya hal tersebut bisa dilihat dari hasil evaluasi dari sang pelatih, Jeffry Hariwijaya bersama JuniorJr dalam konten melalui kanal Bigetron TV.
3 PR besar Bigetron Red Villains saat ini
1. Berhenti uji coba pemain
Uji coba pemain atau menerapkan trial and error ketika turnamen berjalan bukanlah hal yang baik untuk dilakukan. Mengapa? Karena tentu proses berjalannya turnamen sudah harus dipersiapkan oleh semua tim peserta.
Dalam pembicaraan antara Coach Jeffry dan Junior terdapat bagian di mana sang pelatih membuka satu faktor di balik kekurangan mereka pada week 1 PMSL. Jeffry merasa jika separuh fase liga dipakai untuk menguji semua pemain.
- Akhiri krisis, Genesis Dogma GIDS resmi bubar?
- Rumor Ryzen ke PMPL MY mencuat, 3 tim kuat ini menjadi opsi
Hal tersebut dilakukan karena ia berhak memberi setiap pemain kesempatan dan menjadi juara hanya ketika bermain di Grand Final, bukan di fase liga.

“Dari saya pribadi, rencana kami adalah memakai setengah (proses) liga untuk uji coba dan memberi kesempatan untuk semua pemain. Kami punya 6 pemain kelas dunia, dan tidak fair kalau yang main hanya 4 orang saja,” ucap Jeffry.

“Balik lagi, bagi kami tujuan akhirnya adalah menjadi juara. Juara di babak liga belum tentu (jadi) juara di final. Kami coba kasih semua pemain kesempatan main, sambil mencari apa kelebihan kami dibandingkan dengan tim lainnya.”
Memang tujuannya bagus, tapi sebenarnya ini adalah pedang bermata dua. Jika di tengah jalan uji coba gonta-ganti lineup tidak berjalan mulus akan menjadi bumerang bagi Bigetron Red Villains.
Lebih baik pelatih memilih siapa yang layak untuk menjadi starter dan berhenti menerapkan budaya trial and error yang cukup riskan.
2. Adaptasi terhadap META
Poin pembahasan Jeffry dan Junior berikutnya adalah META DBS. Menurut Jeffry, anak asuhnya kurang cepat beradaptasi dengan Shotgun tersebut.
Walau sebenarnya salah satu pemainnya, Alan termasuk yang kompatibel namun, tetap saja adaptasi Bigetron Red Villains dinilai kurang dan hal itu harus dibenahi.
Jeffry menjelaskan jika anak asuhnya sudah berusaha untuk mencoba bermain dengan DBS, akan tetapi hal tersebut tetap tidak menemui hasil. Menurut Jeffry, META DBS adalah hal yang ia tak pernah duga sebelumnya.
“Banyak culture shock yang kami alami di PMSL. Penonton yang nonton juga tahu tim asal Thailand dengan DBS itu luar biasa dan semua pemain/tim Indonesia kaget,”

“Mereka belajar (pakai DBS) tapi tak ada yang sejago itu. Kami biasa main dengan UMP, UZI ada perhitungan berapa ke dada, kepala, rangenya berbeda. Tapi kalau DBS itu random. Jadi yang buat orang jago main DBS itu bukan seberapa jago dia jiggle,”
“Tapi seberapa tepat tembakannya. Kami sudah coba bersama para staf, Fandro, Kiki lawan para pemain dan menang. Anak-anak memang belajar, tapi tidak expect pemain Thailand bisa sejago itu main, semua itu di luar perhitungan saya,” tambah dia.
Menjadi tim yang terbaik memang harus mudah beradaptasi karena hal sekecil apapun pada turnamen menjadi faktor penentu/game-changer. Semoga dari kejadian di PMSL, Bigetron Red Villains bisa adaptif lebih cepat terhadap META.
3. Manfaatkan Ryzen dan uHigh dengan baik
Dua aimstar Bigetron Red Villains, Muhammad “Ryzen” Albi dan Mohd Dhiya “uHigh” Ulhaq adalah komponen penting dalam tim Robot Merah. Bisa dikatakan mereka adalah ujung tombak atau garis depan penyerangan dari Bigetron Red Villains.
Menurut Jeffry, dua aimstar tersebut ternyata ‘tidak cocok’ satu sama lain jika dimainkan dalam satu match secara bersamaan. Perbedaan karakteristik permainan menjadi alasan Jeffry memakai Ryzen ataupun uHigh dalam match terpisah.

“uHigh dan Ryzen itu mereka baru sadar mereka tidak coock di akhir week 2. Dari mana tidak cocoknya? Fundamental gameplay mereka tidak sama, contoh itu ketika PMPL kami melakukan 3rd party Persija sama PIGMY di Sanhok,”
“Saat nge-rush musuh, uHigh tipe yang langsung maju mau bandelin. Sementara Abi main rapi di mana harus di bom dulu, pastiin musuh di mana harus dipancing dulu dll. Dari sana kemudian mereka sadar ternyata tidak bisa bareng,” ungkap Jeffry.

Walau hal tersebut menjadi satu kekurangan, itu bukanlah sebuah kesalahan. Sang pelatih hanya perlu mengerti kapan harus memakai Ryzen dan kapan harus memakai uHigh karena power tempur mereka sangat kompatibel.
Pada akhirnya, Bigetron Red Villains sendiri lah yang mampu menjawab apa kekurangan tim di paruh pertama tahun 2023 khususnya untuk Spring Split. Jika mereka mau bersinar di Fall Split hingga PMGC, 3 poin di atas layak dievaluasi kembali.
Ikuti akun resmi ONE Esports di Facebook, Instagram dan TikTok untuk mendapatkan kabar terkini esports, hasil pertandingan, gosip transfer dan update harian lainnya.
BACA JUGA : Jadwal PMWI 2023, format, hasil pertandingan dan cara menonton