Roamer Team SMG, Mikko, mengungkapkan pendapatnya mengenai hal apa yang menjadi kendala atau penghambat terbesar bagi tim-tim MPL MY untuk bisa bersaing dengan tim-tim lain di turnamen internasional.
MPL MY adalah salah satu liga terbesar dan terlama selain MPL ID dan PH di scene kompetitif MLBB. Liga tersebut dihadirkan Moonton karena melihat popularitas dan kualitas pemain MLBB yang ada di negara atau region tersebut cukup tinggi, meski sebelumnya sempat digabung dengan Singapura dengan nama MPL MY/SG.

Dengan kata lain, sejak awal Moonton telah menilai bahwa Malaysia merupakan salah satu region dengan kualitas terbesar dan layak untuk terus dikembangkan. Namun, dari waktu ke waktu pencapaian wakil MPL MY terus menurun dan tak kunjung dapat berbicara banyak di turnamen internasional.
Pencapaian tertinggi wakil MPL MY di ajang sebesar M-Series hingga M5 World Championship sejauh ini masih dipegang Todak pada gelaran M1. Ciku dkk sebagai tim tuan rumah kala itu berhasil finis di peringkat ketiga dan tidak pernah bisa lagi untuk setidaknya diulangi pada gelaran-gelaran serupa berikutnya.
Padahal jika dilihat secara garis besar, tim-tim MPL MY telah mengalami banyak perkembangan yang cukup signifikan dari permainan tim-tim yang bertanding di dalamnya. Kehadiran pemain import di sebagian besar tim juga seharusnya telah mengangkat permainan mereka ke level berikutnya.
Namun faktanya, di M5 yang mengadopsi format baru jika dibandingkan edisi sebelumnya, tidak ada satu pun perwakilan Malaysia seperti HomeBois dan Team SMG yang mampu lolos ke playoff. Hal ini tentu menunjukkan bahwa tim-tim MPL MY memang mengalami kendala, atau mungkin tim-tim dari region lain yang berkembang terlalu cepat.
| BERITA TERKAIT |
| Jadwal ONIC Esports di M5 World Championship |
| Jadwal Geek Fam di M5 World Championship |
| Eksklusif: Pengorbanan Kid Bomba ke M5 dan inspirasi IGN-nya |
SMG Mikko sebut kendala terbesar tim MPL MY dan bandingkan dengan MPL PH

Meski baru bermain selama satu musim bersama Team SMG, Mikko tentu sudah cukup bisa merasakan seperti apa permainan tim-tim MPL MY untuk ia bandingkan dengan pengalamannya bermain di MPL PH sebelumnya bersama Smart Omega.
Kepada ONE Esports, Mikko mencoba memberikan pendapatnya mengenai hal apa yang menjadi kekurangan tim MPL MY yang menjadi penghambat utama agar dapat bersaing dengan region lain. Hal tersebut ternyata berkaitan dengan gameplay.
“Tim-tim MPL PH menunjukkan skill permainan yang berbeda jika dibandingkan dengan tim-tim MPL MY. Tim Filipina pandai memprediksi langkah selanjutnya yang akan dilakukan lawan, dan lebih proaktif. Sedangkan tim Malaysia lebih cenderung reaktif. Tim Filipina selalu selangkah lebih maju,” ucap Mikko kepada ONE Esports.

Selain itu, Mikko juga mengungkapkan bahwa rasa lapar yang dimiliki tim-tim Malaysia tidak sebesar Filipina. Level kepuasan atas apa ingin dicapai juga tidak terlalu besar menurut pemain berusia 23 tahun itu.
“Pemain Filipina selalu fokus kepada hadiah dan memiliki tekad yang kuat untuk menang. Hal ini bertolak belakang dengan pandangan sebagian tim di Malaysia yang tampak puas hanya finis di posisi delapan besar,” tutur Mikko.
Ikuti akun resmi ONE Esports di Facebook, Instagram dan TikTok untuk mendapatkan kabar terkini esports, hasil pertandingan, gosip transfer dan update harian lainnya.
BACA JUGA: Jadwal playoff M5 World Championship, format, hasil dan cara menonton