Pada sebuah game moba, selalu ada perubahan terkait Most Effective Tactic Available (meta). Tak terkecuali di Mobile Legends: Bang Bang.

Pada MPL season kelima saat ini, perubahan meta muncul cukup signifikan. Dipelopori Rex Regum Qeon Hoshi pada laga perdananya, kemudian ditonjolkan lebih dalam oleh Bigetron Alpha, meta Hyper Carry akhirnya benar-benar meluas.

Hampir semua tim MPL hingga MDL sudah mempraktikkan ini. Apa sebenarnya Hyper Carry? Simpel.



Memanjakan satu core untuk menghabiskan semua jungle dan buff, ditemani dua support, serta adanya dua fighter/tank kuat di sidelane, Hyper Carry pun kian merebak.

Kesuksesan Hyper Carry bisa dilihat dari Corenya. Jika seorang core mampu mencapai level 9 di menit keempat dan 15 pada menit ke-10, berarti strategi sudah mendekati sukses. Tinggal bagaimana dia menggendong tim karena otomatis ia akan jadi paling kaya, tinggal dibandingkan dengan carry lawan.

Tak ayal, pemandangan akan seorang hard core yang membuat 10 kill lebih dalam satu game dan sangat mendominasi sangat sering terlihat.

Hal ini pun dikomentari oleh beberapa sosok. Mulai dari Bjorn “Zeys” Ong selaku pelatih EVOS dan Ruben Sutanto pelatih Bigetron Alpha berbicara soal meta hyper carry dan cara menghadapinya.

https://www.instagram.com/p/B90OhSnHlSp/

“Meta saat ini memaksakan gaya bermain yang identik dengan AOV. Sehingga Anda bisa melihat para (eks) pemain AOV bisa bermain dengan baik, sementara player ML yang ada sejak lama sedikit kesulitan,” jelas Zeys.

Ruben sebagai salah satu pelopor menjelaskan alasannya menggunakan meta hyper carry ini.

“Saya menggunakan meta (hypercarry) tidak meniru dari LoL atau Dota 2. Tapi karena patch yang sekarang ini bisa memakai damage deal yang bukan core,” jelas pelatih BTR tersebut.

“Kami menaruh tank di offlane karena offlane sekarang kalau main damage sangat susah, akibat sering didive n punish. Jadi kenapa tidak kami mainkan tank di pos offlaner dan dua damage dealnya diganti dengan support. Di otak saya pertama kali munculnya seperti itu.”

“Kemudian pas kami coba tanding ternyata hasilnya bagus. Jadi kami terapkan saja seperti ini. Kami sebenarnya sudah tahu kelemahannya. Jadi ketika tim lain pakai strategi ini ya tidak terlalu masalah. Ketika kemarin kalah melawan RRQ juga lebih kepada blunder kami sendiri.”

“Anak-anak sering ketangkap, tak berani open map, teamfight ragu-ragu, kapan mau kontes lord dan turtle, jadi itu terjadi lebih karena tim sendiri,”
ungkap Ruben panjang lebar eksklusif kepada ONE Esports.

BACA JUGA: Bruno milik CW terlalu OP, ONIC Esports hancurkan Geek Fam ID