Debora Imanuella menjadi salah satu sosok wanita yang cukup berpengaruh di scene esports Indonesia. Ia memiliki visi dan misi besar untuk mengembangkan industri ini.
Sebagai Senior Vice President UniPin dan salah satu owner Luna Nera Esports, Debora benar-benar memperlihatkan kecintaannya di scene ini.
Luna Nera cukup berkembang terutama di scene Mobile Legends belakangan ini dan diperhitungkan.
Debora Imanuella jadikan Luna Nera tim khusus perempuan
Pergerakan Debora untuk mengembangkan scene esports begitu cepat. Baru benar-benar aktif satu tahun ke belakang, tapi efek dirinya sudah terlihat terutama untuk tim bentukannya, Luna Nera.
Luna Nera menjadi salah satu tim khusus ladies yang gaungnya cukup besar di scene esports Indonesia. Mereka terbilang aktif berkompetisi.
Saat diwawancarai ONE Esports, wanita karier satu ini menceritakan sedikit soal awal mula membuat Luna Nera.
“Awalnya diajak membuat esports, sesuatu yang benar-benar tak saya ketahui. Tapi melihat ternyata industrinya sangat besar, saya mulai belajar dari dalam dan luar negeri. Belajar tim-timnya juga Dulu saya EVOS dan RRQ saja tidak tahu,” katanya eksklusif.
“Sampai akhirnya saya membentuk Luna Nera yang awalnya adalah komunitas gaming perempuan,” tambah dia.
- 3 pemain wanita yang paling pantas masuk tim MPL ID
- Dianggap salah satu jungler wanita terbaik, Caramel: Saya tak suka role itu
“Saya terjun langsung membentuk Luna Nera, mencari pemain-pemainnya sendiri, sampai mengurus komunitasnya juga yang isinya perempuan semua,” kata Debora.
Perempuan dan laki-laki setara di esports
Ada mindset hebat yang diungkap Debora. Menurut dia kemampuan laki-laki dan perempuan di ranah esports seharusnya sama saja. Itu menjadi dasar dia membuat Luna Nera sebagai tim esports khusus wanita.
Memang sejauh ini masih banyak yang menganggap kemampuan laki-laki di esports lebih baik. Tak sedikit para pemain wanita sendiri yang minder juga dan merasa tak sebanding.
“Luna Nera itu semuanya perempuan karena saya percaya di esports harusnya tak ada gender diskriminatif. Perempuan dan laki-laki harusnya setara di ranah ini,” ujar Debora.

“Yang ada hanya stigma-stigma. Karena ini berbeda dengan olahraga tradisional yang bergantung dengan aspek fisik, yang mana laki-laki dan perempuan memang beda. Olahraga juga diperlukan menggunakan seluruh badan.”
“Tapi ketika berbicara game, lebih ke arah sensor motorik. Jadi ini bukan masalah gender lagi, tapi individual. Laki-laki dan perempuan sama, ada yang motoriknya bagus, ada yang tidak.”
“Mengapa Luna Nera semua perempuan, karena memang itu tujuan saya. Karena esports yang mix team sudah banyak, tapi khusus wanita tidak ada,” tutup dia.
BACA JUGA: Serba-serbi tentang Ramella, wanita pertama dalam sejarah MSC