Dekade 2010-2019 telah menjadi dekade monumental bagi esports. Dalam dekade ini, banyak game berkembang dengan pesat, termasuk League of Legends. Game yang dimulai sebagai game indie kecil berkembang dengan cepat menjadi game online yang paling banyak dimainkan di dunia.

Di setiap wilayah selalu ada pemain LoL yang fantastis, tapi tidak ada yang lebih legendaris dari Lee “Faker” Sang-hyeok, pemain terbaik League of Legends yang pernah ada. Dia memiliki rekam jejak panjang dan kesuksesan yang luar biasa, bahkan dalam masa surut, dia selalu tampil di level tertinggi.

Faker memulai karir profesionalnya di musim ketiga saat ia direkrut oleh SK Telecom T1. Bersama dengan nama-nama besar lainnya seperti Bengi, Impact dan Piglet, ia langsung mendominasi turnamen itu. Mereka menempati posisi ketiga di turnamen pertama mereka, OLYMPUS Champions Spring 2013, di mana setelah penampilan debutnya, Faker sudah dinominasikan sebagai mid laner terbaik di dunia. Setelah itu, faker mengklaim gelar Juara Dunia dengan rekor 15-3.

Memenangkan Kejuaraan Dunia adalah prestasi luar biasa, tetapi hanya sekali menjuarainya tidaklah cukup untuk Faker. Meskipun dia tidak menghadiri Worlds pada tahun 2014, dia kembali pada tahun 2015 dengan semangat baru. Pada titik ini, SKT finis kedua di LCK Spring Split dan pertama di Summer Split untuk mengklaim tempat Worlds mereka lagi. Dengan cara khas Faker, ia mendominasi kompetisinya. Sekali lagi ia membuat jalan ke puncak untuk menjadi Juara Dunia untuk kedua kalinya. Tidak hanya sampai di situ, tahun berikutnya, Faker lakukan hal yang sama dan jadi Juara Dunia untuk ketiga kalinya.

Sepanjang era ini, Faker digembar-gemborkan sebagai midlaner terbaik yang tidak perlu dipertanyakan lagi di dunia. Sepertinya tidak ada yang bisa menyentuhnya, tetapi hal ini tidak bertahan selamanya.



Setelah kemenangan World Championship secara berturut-turut, tidak ada yang bisa meramalkan bagaimana kiprah Faker di tahun 2017. Pada awalnya, itu berjalan seperti yang diharapkan, ketika SKT memenangkan LCK Spring Split dan menempati posisi kedua di Summer Split. Tentu saja, Faker dan SKT membuat jalan mereka ke Worlds dan sukses sampai ke partai Final. Namun di Final World Championship 2017 Faker hancur dalam seri best-of-five mereka melawan SSG. Bahkan SKT tidak berhasil memenangkan satu pertandingan pun di partai final itu.

Seusai kekalahannya, Faker dicadangkan dan diganti oleh Choi “Pirean” Jun-sik untuk sementara waktu, ini merupakan perubahan yang kontroversial. Banyak orang memperdebatkan apakah Faker adalah alasan kekalahan di Worlds 2017. Faker berada pada titik terendah dalam karirnya dan tidak dipercaya oleh timnya.

2019 merupakan titik balik bagi Faker. Kembali dipercaya sebagai midlaner utama, Faker membawa SKT merebut kembali tahta mereka. Mereka mendominasi wilayah Korea dengan memenangkan dua gelar domestik. Meskipun akhirnya SKT kalah di Semifinal Worlds 2019 oleh G2 Esports dan akhirnya FunPlus Phoenix menjadi juara dunia Worlds 2019. Kiprah Faker kali ini cukup sebagai modal solid untuk kembali jadi midlaner terbaik dunia.

2020 mungkin akan menjadi tahun yang besar bagi Faker. Dia adalah pemain berkelas dengan keterampilan super dan fanbase yang besar. Jika Faker dapat membuka potensi sejatinya lagi dan memimpin timnya menuju kemenangan, ia mungkin bisa membawa kembali trofi World ke Korea yang dua tahun terakhir ini bersanggar di Cina.

BACA JUGA: Teka-teki franchise MPL: Banyak tim siap bayar, kapan slot kembali dibuka?