Ketenaran, kebanggan, uang, adalah hal umum yang diimpikan banyak orang. Tapi apapun mimpi yang Anda miliki, itu baru akan terwujud jika Anda melakukan usaha yang nyata. Seperti lulusan SMA berusia 16 tahun, The Cruz, yang mampu mengejar mimpinya untuk menjadi juara dunia Free Fire.

Mimpi tersebut berhasil menjadi kenyataan saat ia memperkuat EVOS Esports di ajang Free Fire World Series 2021. Kala itu The Cruz dkk mampu mencatatkan sejarah sebagai tim Thailand pertama yang bisa menjadi juara dunia.

Tapi apa yang membuat dirinya berani bisa mengejar mimpi tersebut? Bagaimana dia membuat keluarganya menerima jalan yang dia pilih? Dan apa saja yang ia lalui untuk menjadi juara dunia? ONE Esports akan membawa Anda untuk menemukan jawabannya.

Dewa Free Fire – The Cruz

Free Fire The Cruz
Kredit: CruzGaming

“Aku tidak pandai berbicara,” kalimat pertama yang terlontar dari The Cruz sebelum wawancara dimulai. Nada bicaranya memberikan kesan pemalu, selayaknya anak seusianya. Itu berbanding terbalik dengan julukkan “God Cruz” yang sering digaungkan oleh para penggemar.

Sebelum menjadi juara dunia, banyak yang harus ia hadapi. Salah satunya adalah penerimaan keluarga terhadap jalan yang Cruz pilih. Tentu saja banyak orang tua yang ingin melihat anaknya memprioritaskan pendidikan untuk masa depan yang lebih baik. Oleh karena itu, langkah awal untuk menjadi pro player selalu menjadi fase terberat.

“Saya mulai bermain game ketika berusia 14 tahun. Saya bermain dengan teman-teman untuk bersenang-senang.”

“Saat itu, saya sangat kecanduan game sampai-sampai tidak pergi ke sekolah. Suatu hari ibu datang membangunkan dan saya berpura-pura sakit kepala karena ingin tinggal di rumah dan bermain game. Tapi ayah memergoki saat saya sedang berbaring bermain game. Dia mengambil telepon dan menghancurkannya.”

Tidak heran jika para orang tua tidak mengenal dunia esports. Di mata umum, game hanya merupakan sarana hiburan. Namun tidak untuk The Cruz, sejak hari pertama dia terjun ke dunia Free Fire, dia langsung menetapkan tujuan: Suatu hari akan menjadi juara dunia. Dan tahap pertama yang harus dilakukan adalah berkompetisi di Free Fire Pro League Thailand.

Ia bergabung dengan tim Xavier Esports, yang diperkuat oleh non pro player. Bersama tim pertamanya sebagai atlet esports, ia berhasil menembus babak kualifikasi hingga memenuhi syarat untuk bersaing di Free Fire Pro League Thailand Season 1.

Bermain di Free Fire Pro League Thailand Season 1 adalah langkah besar pertama yang harus dilalui Cruz untuk menjadi juara dunia. Tentu saja ia tidak melewatkan kesempatan tersebut.

Jika ingin mengejar mimpi, Anda harus berani memilih.

Free Fire Pro League Thailand Season 1 merupakan kompetisi liga profesional yang membutuhkan kerja keras. Oleh karena itu, kehidupan Cruz telah berubah dari seorang anak laki-laki biasa menjadi seseorang yang harus mengambil tanggung jawab lebih serius.

“Saya benar-benar meminta ibu untuk membiarkan saya tidak meneruskan ke jenjang pendidikan lebih tinggi,” lanjut Cruz. “Setelah berlaga di Liga Pro, ibu saya menerima apa yang saya lakukan. Kala itu saya memberi tahu ibu bahwa saya masuk ke final Liga Pro. Saya meminta pelatih tim Xavier Esports untuk membantu berbicara dengannya, kemudian Ibu mengerti bahwa ini benar-benar karier profesional. Dia mendukung sepenuhnya.”

“Karier pemain profesional dapat mengubah kehidupan seorang gamer normal. Saya jadi punya uang untuk dikirim ke keluarga saya untuk digunakan. Ibu bangga melihat saya bisa melakukannya.”

Xavier Esports adalah titik balik utama yang membawa Cruz ke industri esports. Namun, di musim pertama, ia mendapatkan kekecewaan. Meskipun menorehkan Headshot dan Kill terbanyak di turnamen, tapi timnya hanya finis di posisi ke-6.

“Di Musim 1, kami tidak punya rencana dan strategi apa pun. Dalam turnamen, kita bisa melihat perbedaan antara tim yang memiliki rencana dan tidak. Semua orang terampil dan lebih banyak pengalaman, itu membuat kami sulit untuk bertarung.”

“Musim 2 kami masih bermain sama. Tapi itu jauh lebih baik dari sebelumnya. Kami bisa melawan setiap tim. Saat itu saya mendapatkan MVP lagi. Tujuan saya saat semakin mantap, yaitu untuk mencapai World Championship.”

Keputusan sulit

Setelah menjalani dua musim, The Cruz gagal mencapai World Championship. Karena beberapa hal seperti pemain yang fokus menjalani pendidikan dan beberapa orang harus bekerja untuk mencari nafkah, mereka tidak bisa berlatih sepenuhnya untuk mempersiapkan diri menyambut kompetisi.

Ketika semuanya tidak berhasil, Ice memutuskan untuk mengucapkan selamat tinggal kepada tim untuk mewujudkan mimpinya

“Saya meluangkan waktu untuk berpikir setelah dihubungi EVOS. Xavier adalah tim yang sudah lama saya bela, di sini kami sangat dekat karena semuanya dalam harmoni yang sempurna. Tapi pada akhirnya, perpisahan ini tak bisa dihindari.”

“Ketika saya pertama kali datang ke EVOS, saya tidak bermain bagus. Saya belum akrab dengan tim tetapi terus mencoba beradaptasi. Saya sangat ingin mencapai World Championship, oleh karena itu saya bertekad untuk berlatih sangat keras.”

Gerbang Cruz menuju World Championship

Kredit: Phoenix Force Freefire TH

Memasuki Free Fire Pro League Thailand Season 3, The Cruz sangat yakin bisa memenangkan kejuaraan tersebut. Kekecewaan masa lalu telah menjadi pelajaran penting baginya.

Setelah berjuang selama tiga musim, ia berhasil menjadi juara liga dan pintu menuju World Champioship akhirnya terbuka.

“Memenangkan Season 3 seperti membuka kunci segalanya,” ungkap Cruz sambil mengenang gelar pertamanya. “Saya tidak bisa menggambarkan perasaan saat itu.”

Tapi di beberapa turnamen yang digelar sebelum World Championship, ia lagi-lagi mendapatkan hambatan. Kala itu timnya tidak bisa tampil maksimal.

“Di Asian Championship kami terlalu percaya diri, terlalu ceroboh, kami tidak bermain sebagus saat latihan. Selama latihan, kami bermain dengan cara lain. Untuk benar-benar bersaing, kami bermain dengan cara yang berbeda. Di scrim kami bisa mengalahkan semua lawan, tapi di pertandingan resmi, kami tidak bisa melakukannya.”

Hasilnya mungkin berakhir dengan kekecewaan. Namun kekalahan itu sekali lagi menjadi pelajaran baik baginya. Dan tim melihat kelemahan yang perlu diperbaiki untuk persiapan Free Fire Pro League Thailand Season 4. Hal pertama yang mulai diperbaiki adalah komunikasi.

“Setelah beradaptasi kami menjadi sangat kuat. Di Season 4 kami lebih memahami satu sama lain dan berhasil mempertahankan gelar juara. Tapi saat itu, ada komentar yang mengatakan bahwa EVOS hanya bagus di Thailand, mungkin itu memang benar karena ketika di Asian Championship kami membuat banyak kesalahan. Ketika tiba di Singapura dan menjalani masa karantina, saya menghabiskan waktu itu untuk berlatih keras dan bertanding bersama teman-teman sepanjang malam. Saya berlatih dari jam 4 sore sampai jam 11 malam, kemudian bermain rank sampai jam 5 pagi.”



Mimpi yang menjadi kenyataan

Kredit: Phoenix Force Freefire TH

EVOS berlaga di World Championship dengan nama Phoenix Force karena nama EVOS juga mengirimkan tim dari Indonesia, dan peraturan turnamen melarang adanya dua tim dengan nama organisasi sama. Alasan mengapa The Cruz bekerja keras adalah karena dia tahu bahwa ini adalah hari yang telah lama dia tunggu-tunggu untuk kesempatan bersaing di World Championship. Inilah yang dia impikan sejak awal berkarier.

Sementara itu, Free Fire World Series 2021 Singapura adalah tantangan tersendiri baginya dan belum pernah ada tim dari Thailand yang menjadi juara dunia sekali pun.

“Saya pikir saat itu peluang menjadi juara sangat tinggi karena kita sudah memperbaiki masalah tim. Di kepala saya hanya ada juara. Jika gagal, itu akan sangat menyedihkan.”

“Ini sebuah tantangan, tim Thailand belum pernah memenangkan kejuaraaan internasional sebelumnya. Tapi kami sudah mempersiapkan diri dengan baik, istirahat, dan latihan. Kami merasa paling siap sejak tiba di Singapura.”

Sejujurnya, Phoenix Force hanyalah kuda hitam yang tidak begitu diperhitungkan. Fluxo dan EVOS Divine dari Indonesia yang muncul sebagai favorit, tetapi Phoenix Force langsung menarik perhatian setelah kompetisi dimulai.

Pada akhirnya, Phoenix Force menjadi yang terbaik berkat empat BOOYAH! dari enam pertandingan mereka, mengumpulkan 113 poin, dan memenangkan gelar World Championship pertama mereka. Selain itu, Ice juga memenangkan penghargaan pemain terbaik turnamen.

“Mendapatkan MVP berarti saya adalah pemain terbaik di dunia. Saya terkenal, bahkan ada lebih banyak orang Indonesia yang menonton YouTube saya daripada orang Thailand.”

“Itu adalah waktu terbaik saya sejak masuk ke industri ini. Menjadi juara dunia telah menjadi impian saya sejak hari pertama di Pro League Season 1. Saya sudah menunggu untuk waktu yang lama.”

Mimpi yang belum berakhir

Kredit: Phoenix Force Freefire TH

Di usia yang baru menginjak 16 tahun, The Cruz sudah memenangkan dua gelar Free Fire Pro League Thailand dan satu Free Fire World Series 2021 Singapura, serta penghargaan pribadi dari skala domestik hingga global. Meski memiliki segudang pencapaian, mimpinya tak berhenti sampai di situ.

“Target saya selanjutnya adalah mempertahankan gelar World Champions. Aku masih tidak ingin berhenti, kami tidak tahu apakah musim depan di Thailand kami akan menjadi yang ke-2 atau ke-1 karena setiap tim semakin baik dan lebih baik. Tapi saya ingin bertarung di World Championship lagi.”

Sejak hari pertama memutuskan untuk memilih jalannya sendiri, Cruz mempertaruhkan segalanya untuk mengejar mimpi. Itu adalah pertaruhan besar bagi seorang yang masih sangat muda.

“Kalau hari itu saya tidak berani memutuskan untuk menjadi pro player, saya mungkin hanya seorang pecandu game yang terus bermain game sepanjang hari.”

“Game membuat saya terkenal dan membantu menghasilkan pendapatan yang bisa digunakan untuk keluarga. Hari ini, hidup saya tampaknya telah mencapai langkah ke-9. Lalu apa langkah terakhirku?”

“Itu adalah mempertahanan gelar juara World Championship,” Ice The Cruz menyimpulkan dengan nada tegas.

BACA JUGA: Daftar redeem code Free Fire Juni 2021