Aksi penembakan masal yang dilakukan oleh orang tak bertanggung jawab kembali terjadi di Amerika Serikat, Sabtu (3/8/2019). Akibatnya, sebanyak 29 orang menjadi korban tewas.

Jatuhnya 29 korban jiwa tersebut disebabkan oleh dua penambakan masal berturut-turut di dua tempat berbeda, yaitu Ohio dan Texas, dalam satu hari.

Penambakan pertama terjadi di sebuah Walmart di El Paso, Texas, oleh Patrick Crusies yang merenggut 20 jiwa.

Selang 13 jam berikutnya, penambakan juga terjadi di Dayton, Ohio, oleh seorang bernama Connor Betts yang menewaskan sembilan orang, sebelum ditembak mati oleh petugas kepolisian.

Kejadian ini membuat Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menjadi sasaran kritik dan cemoohan karena dianggap gagal dalam memberlakukan langkah-langkah pengendalian kepemilikan senjata yang lebih ketat.

Trump sempat menjadikan isu kebencian terhadap para imigran sebagai latar belakang penembakan. Namun, kini ia mulai menyudutkan video game yang menghadirkan sisi kekerasan sebagai penyebab dari maraknya penembakan di Amerika Serikat.

Kali ini, Fortnite yang baru saja menggelar Kejuaraan Dunia di Amerika Serikat dan sukses menggemparkan dunia beberapa pekan lalu, menjadi kambing hitam.

Bahkan, Trump berencana dalam waktu dekat pihaknya akan semakin membantasi akses anak-anak dari video game yang mengandung unsur kekerasan.

Komentar yang sama tentang video game ini juga sempat diucapkan Trump saat terjadi penembakan di Stoneman Douglas High School, Parkland, Florida, pada 2018.

“Saya mendengar semakin banyak orang mengatakan tingkat kekerasan yang ada di video game benar-benar telah membentuk pemikiran anak-anak muda,” ucap Trump seperti dikutip dari CNN.

Hal ini pun disesalkan oleh salah satu konsultan esports terkemuka dunia, Rod “Slasher” Breslau, saat dirinya diminta menjadi pembicara di Fox News.

Slasher percaya bahwa unsur kekerasan di dalam video game tidak memberikan dampak buruk kepada anak-anak di kehidupan nyata.

Selain itu Slasher juga menggarisbawahi fakta bahwa video game atau esports dimainkan di setiap negara di dunia setiap harinya, tetapi mengapa kasus penembakan sebagian besar terjadi di Amerika Serikat.

Dengan kata lain, pemerintah Amerika Serikat lah yang seharusnya bertanggung jawab atas serangkaian tragedi berdarah yang telah terjadi akibat longgarnya aturan kepemilikan senjata.