Tidak diragukan lagi bahwa Fortnite World Cup Finals 2019 merupakan salah satu event esports terbesar tahun ini.

Bagaimana tidak, Fortnite World Cup Final 2019 yang digelar di Arthur Ashe Stadium, New York, Amerika Serikat, pada 26-28 Juli 2019 itu dihelat secara megah dan menghadirkan total hadiah sebesar US$30 juta atau sekitar Rp423 miliar.

Selain nilai hadiah fantastis, Fortnite World Cup Finals 2019 juga bisa dianggap besar karena mampu menarik minat banyak orang untuk menonton pertandingan, baik yang datang langsung ke stadion, mau pun via saluran streaming dan media sosial.

Menurut kabar, Fortnite World Cup Finals 2019 ditonton oleh 2,3 juta pemirsa! Jumlah tersebut juga belum termasuk penonton yang memadati Arthur Ashe Stadium selama tiga hari gelaran.

Sebagian besar dari 2,3 juta penonton tersebut tertarik untuk menyaksikan laga Solo Final, di mana Kyle “Bugha” Giersdorf yang baru berusia 16 tahun berhasil menjadi juara dan berhak atas hadiah US$3 juta atau sekitar Rp42,3 miliar.

Dengan tingginya jumlah penonton tersebut membuat pihak Epic Games sebagai developer dan publisher Fortnite, dan penyelenggara turnamen tersebut mengklaim bahwa Fortnite World Cup Finals 2019 adalah turnamen paling banyak ditonton sepanjang sejarah esports.

Namun, klaim tersebut diucapkan Epic Games secara sepihak karena mereka tidak menghitung jumlah pemirsa yang berasal dari Cina di semua turnamen esports yang pernah digelar sebelumnya.

Hal ini tentu tidak adil untuk dilakukan, mengingat Cina memiliki banyak penggemar esports dan memiliki total penduduk sebanyak 1,4 miliar orang yang merupakan negara dengan populasi terbesar di dunia.

Jika penonton dari Tiongkok ikut dihitung, maka jumlah pemirsa Fortnite World Cup Finals 2019 kalah banyak dari dua event esports lainnya, yaitu turnamen Dota 2 The Internatonal 2018 dan League of Legends 2018 World Championships.

Berdasarkan laporan, total penonton The International 2018 dari seluruh dunia memiliki total sebanyak 15 juta. Sementara League of Legends jauh lebih mencengangkan lagi, yaitu 200 juta dari seluruh dunia.