Pertandingan di Upper Bracket mempertemukan RNG dan Nigma. Skuat besutan Kuroky tentu jadi favorit di pertandingan ini.
Game satu, Nigma putuskan untuk gunakan Enigma dan Naga Siren, sebuah kombo team-fight klasik yang harus dieksekusi dengan sempurna.
Namun, RNG membungkam strategi pertarungan tim Nigma secara efektif. Lineup Nigma memiliki Cooldown ultimate yang lama, RNG secara konsisten mengeksploitasi kekurangan ini dengan core hero dengan cooldown rendah yang sangat mobile yaitu Puck dan Slark.
Gao “Setsu” Zhenxiong gunakan Puck secara efektif, mendominasi dari awal hingga akhir. Pasukan Eropa tidak dapat menemukan cara untuk menghentikan core hero RNG dan gagal mencegah tim China menyerbu markas mereka.
- Patch Dota 7.23f perbaiki masalah fluktuasi gold
- Jumlah pemain Dota 2 jatuh ke titik terendah sejak Januari 2014
Di pertandingan kedua, Nigma mengganti gaya permainan mereka. Kali ini Amer “Miracle-” Al-Barkawi gunakan Slark dan Maroun “GH” Merhej gunakan Io. Duo hero ini terbukti ampuh, keduanya secara aktif berkeliaran di map dan lakukan pick-off. Pertandingan pun harus berlanjut ke game tiga.
Game ketiga jadi pertandingan sengit antar kedua tim, keduanya silih berganti saling menyerang. Tempo permainan terus meningkat seiring waktu. Miracle- yang gunakan Templar Assassin jadi ujung tombak Nigma. Kerjasama RNG yang mengandalkan Invoker, lock down dari Duel Legion Commander, dan Abyssal Blade Lifestealer berhasil jatuhkan Miracle lalu sisa hero dari Nigma jatuh satu per satu seperti kartu domino.
Dengan kemenangan ini RNG melaju ke final Upper Bracket, sementara Nigma harus berjuang lebih keras di Lower Bracket.
BACA JUGA: Garter sebut satu sistem yang bisa merusak esports Dota 2
