Penggemar Dota 2 di seluruh dunia saat ini sedang kesulitan untuk mengendalikan persaan kegembiraan mereka setelah Danil “Dendi” Ishutin mengumumkan pembentukan tim baru bernama B8 pada awal 2020. Ia merupakan salah satu pemain legendaris Natus Vincere (Na’Vi) sebelum keluar pada 2018.

Tanpa perlu diragukan lagi, Dendi merupakan salah satu pemain paling dicintai di dunia Dota 2 profesional. Ia menjadi salah satu kunci keberhasilan Na’Vi menjuarai The International edisi pertama, 2011 (TI1). Kembalinya Dendi ke scene profesional ini tentu disambut gembira oleh para pendukungnya.

Namun, para penggemar Dendi saat ini tengah dihadapkan dengan fakta yang tidak menyenangkan. Pasalnya B8 yang dibentuk oleh sang superstar justru tak bisa berbicara banyak di scene kompetitif Dota 2.



Berdasarkan data yang dirilis oleh DatDota, tim B8 saat ini telah mengalami kekalahan beruntun dalam 24 pertandingan terakhir alias terpanjang dalam sejarah Dota 2 profesional setelah kalah 0-2 dari tim Unique pada 5 Mei 2020 di Epic Prime League Season 1. Rekor tersebut mengalahkan FTD Club C pada 2016.

Selain itu, B8 telah mengalami 12 kekalahan beruntun di pertandingan WePlay! Pushka League yang saat ini sedang berlangsung. Bahkan B8 tak pernah bisa memenangi satu game pun pada turnamen tersebut.

Sejauh ini Dendi tetap mampu menunjukkan permainan bagus sebagai core dan kapten untuk B8. Hal ini juga tak biasa karena kabanyakan tim-tim profesional menjadikan pemain Support sebagai kapten agar pada core bisa fokus dalam melakukan farming dan mengendalikan map.

Di sisi lain, hal ini mungkin dilakukan Dendi karena tidak ada pemain lain yang bisa ia andalkan untuk menjadi kapten, sementara ia harus tetap menjalankan tugasnya sebagai core tim. Secara tak langsung, hal ini juga menunjukkan bahwa tim bentukkan Dendi tersebut tak memiliki kualitas yang cukup untuk bersaing.

BACA JUGA: BLAST ikut terjun ke scene kompetitif Dota 2 dengan hadirkan turnamen Bounty Hunt