Pemain carry legendaris OG ana mungkin telah pensiun dari kompetisi Dota 2, tetapi kami akan selalu mengingatnya sebagai pemain yang mampu menciptakan strategi non-meta luar biasa (ya, kami berbicara tentang Io carry-nya), melakukan aksi di luar nalar, trolling, dan bersenang-senang dengan rekan satu tim. Secara keseluruhan, ana telah menunjukkan betapa indahnya Dota.

Dota 2 OG ana
Kredit: OG Esports

Berikut adalah momen Anathan “ana” Pham yang paling tak terlupakan.

5. Fountain farming Phantom Lancer — DreamLeague Season 15

Meski ia sempat absen dari kancah kompetitif Dota 2 selama setahun, laga comeback ana dua bulan lalu menunjukkan performa yang solid.

Dia tidak menunjukkan belas kasihan terhadap tim Brame saat menggunakan salah satu hero ciri khasnya, Phantom Lancer. Di akhir permainan, ana benar-benar tidak terbendung dan menumbangkan lawan-lawannya yang sedang berada di dalam fountain.

4. Alchemist yang tak bisa ditumbangkan — The International 2019

Kemampuan OG ana untuk membalikkan team-fihgt benar-benar menakjubkan, sampai-sampai caster Filipina, Marlon “Lon” Marcelo dan Aldrin “Dunoo” Pangan, mengatakan jika ini adalah “permainan next level.”

Dengan memimpin 11.000 networth, ana menyerbu ke pangkalan Radiant di mana dia menyerang hingga mendekati fountain musuh. PSG.LGD mengerahkan semua yang mereka miliki, tetapi Alchemist ana berhasil bertahan. Saat mengejar ana, justru malah PSG.LGD Chalice yang tumbang.

3. 1 HP TP — The International 2018

Para penonton pasti sedang duduk nyaman saat OG menghadapi teror raksasa China PSG.LGD di grand final best-of-five (BO5) The International 2018. Namun, selama team-fight ikonik ini, mereka yang menonton dipaksa menahan napas ketika OG ana melakukan teleportasi ke base dengan sisa 1 HP saat terkena serangan Arcane Curse dari Jian “xNova” Yap’s Silencer.

ana berhasil kembali ke markas dan memulihkan HP tepat beberapa milidetik sebelum ia tumbang oleh Arcane Curse xNova. Sebuah aksi dan kalkulasi gila!



2. Io carry OG ana — The International 2019

Siapa bilang wisp atau Io hanya bisa dimainkan sebagai hero support? Faktanya Io carry Ana menjadi berita utama selama gelaran The International 2019. Strategi itu pertama kali ia perlihatkan ketika melawan Ninjas in Pyjamas (NIP). Kala itu ana membuktikan jika Io carry-nya sangat menakutkan di fase late game.

Io carry muncul kembali di seri grand final TI9 melawan Team Liquid. Di sana penonton melihat kombo carry Gyrocopter-Io yang tak biasa dari ana dan Topias “Topson” Taavitsainen. Kombo itu sangat efektif dan mampu mengatarkan OG meraih gelar TI keduanya secara berturut-turut.

1. Aksi ana yang luput dari perhatian — The International 2018

Hal yang paling mengagumkan dari gaya bermain OG ana adalah kecepatan jari dan permainannya yang seperti dewa. Namun, klip nomor satu dalam daftar ini bukanlah permainan mencolok seperti Chronospheres yang mengenai tiga orang, atau lahirnya meta Dota 2 baru.

Di sini kita akan membicarakan salah satu permainan spektakuler dalam sejarah Dota 2 namun sering kali luput dari perhatian.

Di game 4 grand final TI 8, Setelah menyadari bahwa dia akan dibunuh oleh PSG.LGD, ana pergi ke sisi bounty rune musuh dan menjual dua itemnya — Talisman of Evasion dan Ring of Aquila. Tindakan kecil ini membuat ia memiliki gold yang cukup untuk buyback. Keputusan itu menjadi langkah monumental yang mencegah PSG.LGD dari mengklaim gelar juara dan trofi Aegis of Champions.

PSG.LGD berusaha untuk menyelesaikan permainan pada menit ke-41, tetapi ana melakukan buyback tepat pada waktunya untuk menjatuhkan Morphling Wang “Ame” Chunyu dan Bloodseeker Lu “Somnus丶M” Yao.

Kemudian OG berhasil membalikkan keadaan dan memenangkan Game 4. Di game selanjutnya mereka sangat mendominasi permainan dan berhasil menjadi juara sambil membawa pulang hadiah utama sebesar US$11 juta.

Bonus: Kejailan ana pada n0tail

Kita semua tahu para pemain OG adalah roster yang menyenangkan. Beberapa pemain bahkan menampilkan sisi kocaknya di turnamen serius, seperti yang dilakukan ana di The International 2019.

Dalam pertandingan best-of-three OG vs Newbee di Upper Bracket Playoff, Juggernaut ana tak mengalami kesulitan membunuh Johan “pieliedie” ström’s Shadow Demon dengan bantuan Grimstroke N0tail. Saat keduanya melarikan diri dari ilusi pieliedies, ana memblokir jalan N0tail dan membuatnya mati karena diserang ilusi.

ana kemudian mengirimkan chatwheel sarkastik “My bad” untuk memberi tahu kapten timnya bahwa dia hanya bercanda.

BACA JUGA: Anime DOTA: Dragon’s Blood, inspirasi utama WePlay AniMajor