Southeast Asia (SEA) dikenal sebagai salah satu region Dota 2 terbesar bersama China, Europa, CIS, North America, dan South America, namun bila dilihat dari segi prestasi, SEA cukup tertinggal dari region lainnya.

Lingkungan pub game di SEA pun terbilang paling buruk di antara region lainnya, para pemain di region ini kerap kali berseteru, bahkan dengan teman satu tim. Terutama saat pemain Indonesia dan pemain Filipina bertemu, sudah bisa dipastikan pertikaian bakal terjadi.

Karena hal itu, SEA dinobatkan sebagai region dengan lingkungan terkeras di dunia, keras dalam artian negatif tentunya.



Tapi belakangan ini, SEA mulai menunjukan perkembangan signifikan. Di musim ini, tim dari SEA berhasil mendapatkan beberapa gelar bergengsi, sebut saja TNC Predator yang mengejutkan dunia dengan menjuarai ESL One Hamburg dan MDL Chengdu Major, kemudian Fnatic yang juga berhasil meraih prestasi dengan menjadi juara di DOTA Summit 12.

Pemain profesional Dota 2 asal Indonesia, T1.Jhocam, yang saat ini membela panji T1 bersama inYourdreaM, mengutarakan pendapatnya tentang ranah Dota 2 di SEA.

“Dari segi wawasan, SEA memang tertinggal, namun saat ini region SEA mulai berkembang dan sudah bisa menyaingi region kuat seperti Europa dan China,” ungkap Jhocam

Ketika ditanya langkah apa yang harus diambil tim SEA untuk semakin berkembang, pemain support 4 tersebut menjawab “untuk bisa berbicara banyak di turnamen internasional, yang harus dilakukan tim SEA adalah menciptakan chemistry dalam tim agar bisa bermain dengan style yang sama,” jelas Jhocam.

Sementara, eksistensi Dota 2 di tanah air semakin menurun karena kalah pamor oleh game-game mobile, namun di sisi lain, kancah profesional Dota 2 Indonesia justru semakin berkembang, tim andalan Indonesia, BOOM Esports, baru-baru ini telah berhasil menorehkan pencapaian membanggakan dengan finish posisi keempat di StarLadder ImbaTV Minor.

Menyikapi keadaan Dota 2 di tanah air, Jhocam mengatakan “Dota 2 di Indonesia sedang menurun karena adanya game mobile, tapi peminat Dota 2 masih terbilang banyak dan pro player-nya pun terus bersinar.”

“Menurut saya, organisasi dan perusahaan esports harus lebih sering mengadakan turnamen agar Dota 2 kembali berkembang di Indonesia,” tutup Jhocam.

Meski sering kali dicap negatif, region SEA sudah berhasil membuktikan jika mereka patut diperhitungkan. Jika tren positif bisa dipertahankan, bukan tidak mungkin nantinya SEA akan menjadi region Dota 2 terkuat di dunia.

BACA JUGA: BLAST ikut terjun ke scene kompetitif Dota 2 dengan hadirkan turnamen Bounty Hunt