Meski Fnatic tampil mengecewakan di grup stage namun mereka berhasil menang tanpa cacat saat melawan Adroit di grand final ESL One Los Angeles region SEA.

Sebelum gelaran grand final ini, kedua tim sudah tiga kali bertemu di mana Fnatic berhasil menang dua kali dan hanya sekali kalah saat mereka bertemu di fase grup.



Di game pertama kedua carry dari masing-masing tim cukup seimbang dalam raihan networth, hanya saja keempat pemain Fnatic lainnya tampil dominan sehingga Adroit tidak bisa berikan banyak perlawanan dan dipaksa menelan kalahan.

Adroit memutuskan untuk bermain agresif di game kedua dengan mengandalkan midlaner Mac yang menggunakan Necrophos. Hero tersebut mampu memberikan damage konstan dan heal sehingga Adroit mampu mengamankan beberapa tower di mid game.

Sayangnya momentum Adroit berhasil dihentikan berkat kecerdasan iceiceice yang mampu memancing lawan sehingga memungkinkan Dj untuk melancarkan serangan telak dengan skill ultimate Echo Slam.

Di sisi lain, carry dari Adroit tidak bisa mendapat farm sehingga hanya Mac yang menjadi tumpuan tim. Ketika Fnatic berhasil menjatuhkan Mac dua kali berturut-turut, Adroit pun goyah dan menyerah di game dua ini.

Game terakhir berjalan serupa dengan game pertama di mana core hero Fnatic bisa mendapatkan farm dengan mudah berkat permainan cerdas dari support Jabz yang terus mengulur waktu dan memancing lawan.

Kalah 3-0 tanpa balas membuat Adroit harus pulang dengan kepala tertunduk dan merelakan Fnatic mengambil gelar juara ESL One Los Angeles region SEA.

Pertandingan ini merupakan grand final kedua Fnatic di satu bulan terakhir, sebelumnya mereka berhasil menjadi juara Dota Summit 12 setelah mengalahkan OG.Seed.

BACA JUGA: Sukses menangi dua pertempuran sengit, BOOM Esports hantam Geek Fam di ESL One Los Angeles Online