Pelatih divisi Dota 2 BOOM Esports, Chai “Mushi” Yee Fung, menjelaskan bahwa dirinya memiliki metode tersendiri sebagai pelatih dengan menjadi teman bagi para pemain yang ia tangani agar tidak ada jarak di antara mereka.

Sebagai tim dan player Dota 2, di setiap tahunnya mereka selalu fokus untuk bisa lolos ke The International. Perjalanan pemain dan pelatih untuk mencapai turnamen tersebut mungkin terlihat sama, tetapi tantangan yang mereka hadapi sangat berbeda.

Jelang menghadapi DPC 2022, Mushi sukses menghadirkan harapan besar bagi kubu Hungry Beast dengan menjuarai BTS Pro Series SEA Season 8 dan 9, plus Mineski Masters beberapa waktu lalu.

Raihan tiga trofi ini adalah gelar di level SEA pertama bagi BOOM Esports di sepanjang 2021, setelah terakhir kali mereka meraihnya paa 2020 di ajang StarLadder ImbaTV Dota 2 Minor Season 3 SEA, ONE Esports Dota 2 Invitational Jakarta: Indonesia Qualifier, dan ESL SEA Championship 2020.

Sebagai salah satu player paling veteran di Dota 2 Asia Tenggara, Mushi pertama kali memulai karier kompetitifnya pada usia 16 tahun saat bermain DotA Allstars (mod original Warcraft) sebelum bergabung dengan dengan tim Dota 2 Orange Esports pada 2011.

Sejak saat itu, Mushi telah malang-melintang di dunia persilatan Dota 2 Asia dengan bermain untuk banyak tim besar SEA dan China, sebelum pada pertengahan 2021 memulai peruntungannya sebagai pelatih dengan menangani TNC Predator.

Sebagai salah satu tokoh paling senior di kancah Dota 2 Asia Tenggara, ONE Esports berbincang dengan Mushi untuk mengetahui lebih banyak tentang pengalaman barunya sebagai pelatih Dota 2.


Mushi tolak tawaran jadi player di DPC 2022 demi melatih BOOM Esports

Dota 2 Mushi during TI6 with Fnatic
Kredit: Valve

Ketika ditanya apakah dia berencana menjadi pelatih untuk musim DPC 2022 mendatang, Mushi mengungkapkan bahwa dia baru benar-benar mulai menegaskan minatnya menjadi pelatih secara penuh pada awal 2021. Sebelumnya, dia masih memiliki keinginan untuk menjadi pemain.

Selama offseason pasca-TI10, Mushi mengaku telah menerima banyak tawaran dari berbagai organisasi untuk menjadi pemain di musim DPC 2022 mendatang. Namun, semua itu ia telak.

Pada saat yang sama, Timothy John “Tims” Randrup dan Rolen Andrei Gabriel “skem” Ong telah menjadi bagiand ari BOOM Esports, berkali-kali mencoba mengajak Mushi untuk melatih mereka.


Mushi tak ingin memandang pemain berbeda dengan dirinya

Dota 2, Mushi, BOOM Esports
Kredit: Mushi

Sebagai mantan pemain profesional Dota 2, Mushi tahu bagaimana rasanya bekerja dengan seorang pelatih. Saat bertanding di bawah asuhan pelatih terkenal di scene Dota 2 China, Tang “71” Wenyi, Mushi sempat memujinya karena memiliki visi yang unik dalam hal permainan.

Namun, satu hal yang gagal dilakukan 71 di mata Mushi adalah “cara membuat tim menjadi satu kesatuan”. Sebuah tim bisa berada pada kondisi terkuatnya ketika semua orang merasa setara dan Mushi mencoba menerapkan filosofi tersebut ke dalam gaya kepelatihannya sendiri di BOOM Esports.

“Ketika saya melatih, saya tidak ingin memisahkan diri karena saya adalah pelatih dan mereka adalah pemain. Saya lebih melihat kami sebagai teman dan bahwa kami semua berada di level yang sama, sehingga semua orang memiliki kesempatan untuk berbicara,” ucap Mushi kepada ONE Esports.

Mushi berusaha untuk lebih dekat dengan para pemain dengan cara saling mengejek secara santai, mengeluarkan lelucon, dan bersenang-senang bersama. Hal ini tidak hanya membuat para pemain merasa nyaman berada di dekatnya, tetapi juga membuat mereka merasa cukup percaya diri untuk berbagi pemikiran selama diskusi tim.

Terlebih Mushi mengakui bahwa ketika ia bergabung dengan BOOM Esports, beberapa pemain sebenarnya takut padanya karena memiliki sejarah sebagai pemimpin yang keras.

“Dulu saya memiliki harapan bahwa rekan setim saya akan melakukan hal yang sama seperti saya, tetapi tidak semua orang memiliki visi yang sama,” ujar Mushi.

“Memaksakan bukanlah cara yang baik untuk dilakukan. Sebaliknya, komunikasi yang tepat dan membuat rekan setim saya merasa nyaman adalah cara terbaik,” tuturnya.


Mushi ingin memastikan BOOM Esports tidak terpengaruh ekspektasi di setiap turnamen

Kredit: Twitter/BOOM Esports

Di setiap turnamen yang diikuti, Mushi memilih untuk tidak menetapkan ekspektasi apapun, baik kepada dirinya atau tim. Sebaliknya, ia melihat bahwa setiap seri dan lawan sebagai tantangan baru yang harus bisa diatasi oleh mereka.

Terlepas dari tim mampu meraih kemenangan atau tidak, dia akan duduk bersama dengan para pemain untuk mendiskusikan permainan dan apa yang telah mereka pelajari dari pertandingan tersebut.

Hal ini akan menghadirkan sebuah pengetahuan baru, baik bagi pelatih maupun bagi pemain yang bisa mereka gunakan di pertandingan. Belajar dari pengalaman akan sangat baik bagi tim ketimbang memikirkan ekspektasi yang telah ditentukan sebelumnya.

Kesuksesan yang berhasil diraih Mushi bersama BOOM Esports sejauh ini menjadi bukti bahwa metode yang diterapkan bisa berjalan dengan baik dan sebagai komunitas Dota 2 Indonesia, kita tentu berharap mereka bisa berbicara banyak di DPC 2022.

BACA JUGA: 3 pengumuman roster Dota 2 terbaik dan terkreatif jelang DPC 2022